Waspada Jurnal Predator, Begini Cara Verifikasinya di SINTA dan Scopus
Maraknya jurnal predator menjadi tantangan tersendiri bagi kalangan akademisi, peneliti, maupun mahasiswa. Jurnal jenis ini sering menjanjikan publikasi cepat dengan biaya tertentu, namun tidak melalui proses review yang ketat dan tidak diakui secara akademik. Karena itu, sivitas akademika FTIK UIN KHAS Jember diimbau untuk lebih waspada dan teliti dalam memilih jurnal publikasi.
Salah satu langkah penting yang dapat dilakukan adalah melakukan pengecekan melalui Science and Technology Index (SINTA). Jurnal yang sudah terindeks SINTA telah melalui proses penilaian akreditasi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, dengan tingkatan mulai dari SINTA 6 hingga SINTA 1. “Kalau sebuah jurnal sudah ada di SINTA, berarti sudah resmi diakui secara nasional. Itu salah satu indikator yang paling mudah dicek,” ujar salah satu dosen sekaligus Ketua Gugus Mutu FTIK, Fikri Apriyono, M.Pd., saat ditemui di sela kegiatan akademik.
Cara melakukan verifikasi di SINTA cukup mudah. Pertama, buka laman resmi sinta.kemdikbud.go.id. Selanjutnya, pilih menu “Sources” lalu klik “Journal”. Setelah itu, ketik nama jurnal yang dituju pada kolom pencarian. Apabila jurnal tersebut terakreditasi, maka akan muncul informasi lengkap mengenai peringkat SINTA, institusi pengelola, hingga indeksasi lainnya.
Selain SINTA, basis data internasional Scopus juga menjadi acuan penting bagi publikasi global. Melalui laman scopus.com, penulis dapat masuk ke fitur “Sources” kemudian memasukkan nama jurnal atau ISSN. Jika jurnal benar-benar terindeks, akan muncul keterangan detail seperti penerbit, cakupan bidang, hingga posisi kuartil (Q1–Q4). Hal ini memudahkan peneliti untuk memastikan kredibilitas jurnal sebelum mengirimkan naskah.
Namun, pengecekan di database saja tidak cukup. Penulis juga perlu mengenali ciri-ciri jurnal predator, misalnya tidak jelasnya dewan editor, alamat penerbit yang meragukan, serta janji publikasi sangat cepat tanpa melalui proses peer review. Beberapa jurnal predator bahkan mencatut nama peneliti atau universitas ternama tanpa izin sebagai strategi meyakinkan calon penulis.
“Jangan mudah tergiur dengan tawaran publikasi instan. Publikasi ilmiah itu tidak hanya tentang kuantitas, tetapi juga kualitas dan reputasi. Salah memilih jurnal bisa berdampak pada reputasi akademik,” tambah Fikri Apriyono.
Ke depan, FTIK berkomitmen untuk terus memberikan edukasi literasi publikasi ilmiah kepada mahasiswa dan dosen agar lebih cermat dalam memilih jurnal. Harapannya, semakin banyak karya ilmiah sivitas akademika yang tidak hanya terpublikasi, tetapi juga mendapat pengakuan nasional dan internasional. Dengan langkah verifikasi yang tepat, integritas penelitian dapat terus terjaga. (RF)




