Jember, November 2026 – Isu etika dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di dunia pendidikan terus menjadi sorotan global. Hal ini setidaknya tercermin dari publikasi terbaru Journal of Language Intelligence and Culture (JLIC) Vol. 8 No. 2 tahun 2026, yang resmi diterbitkan pada 14 Oktober lalu.
Melalui jurnal yang dikelola oleh UIN KHAS Jember tersebut, sejumlah peneliti internasional "menitipkan pesan" penting mengenai bagaimana AI seharusnya digunakan, khususnya dalam ranah pendidikan bahasa. Salah satu artikel utama yang menyita perhatian berjudul "Ethical Artificial Intelligence Leadership for Multilingual and Intercultural Language Education in Developing Countries: A Six-Dimension Framework".
Artikel tersebut ditulis oleh tiga peneliti dari Samarangan University, yaitu Abdul Walid Qadiri, Abdul Walid Sirat, dan Musawer Hakimi. Dalam risetnya, para peneliti ini merumuskan sebuah kerangka kerja enam dimensi (Six-Dimension Framework) sebagai panduan kepemimpinan etis dalam penerapan AI untuk pendidikan bahasa multibahasa dan antarbudaya, khususnya di negara-negara berkembang.

Etika sebagai Fondasi, Bukan Sekadar Pelengkap
Pesan utama yang disampaikan para peneliti ini sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana adopsi teknologi AI di ruang kelas meningkat pesat. Melalui artikel tersebut, mereka mengingatkan bahwa integrasi AI tidak boleh sekadar berfokus pada kecanggihan teknologi semata.
Para peneliti menekankan bahwa tanpa fondasi etika yang kuat, pemanfaatan AI justru berisiko memperlebar kesenjangan, mengabaikan nilai-nilai budaya lokal, hingga mengancam privasi dan otonomi peserta didik. Oleh karena itu, dibutuhkan sosok "pemimpin AI etis" (Ethical AI Leadership) yang mampu memastikan teknologi ini benar-benar memberdayakan, bukan mengeksploitasi.
Publikasi ini menjadi sangat strategis mengingat JLIC merupakan jurnal yang terindeks di berbagai basis data bereputasi. Artikel tersebut telah diakses lebih dari 100 kali (Abstract View: 116) dan diunduh sebanyak 33 kali sejak diterbitkan. Angka ini menunjukkan tingginya atensi akademisi terhadap isu etika AI dalam pendidikan.
Kontribusi JLIC bagi Diskursus Global
Terbitnya artikel dari peneliti Samarangan University ini membuktikan bahwa JLIC telah menjadi wadah yang dipercaya oleh komunitas akademik internasional untuk mendiseminasikan gagasan-gagasan kritis. Jurnal ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi UIN KHAS Jember, tetapi juga berkontribusi nyata dalam merumuskan arah pendidikan yang beretika di era digital.
Pesan yang "dititipkan" melalui JLIC ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi para praktisi pendidikan, pengambil kebijakan, dan pengembang teknologi untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam menghadirkan AI di ruang-ruang belajar. Etika harus menjadi kompas utama, agar kemajuan teknologi senantiasa selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. (AL)